Berita Program
1 July 2026
4 menit
Tim Yayasan Bumi Pertiwi Asri

TPA Jatiwaringin Terbakar Kembali, Bukti Nyata Gagalnya Tata Kelola Sampah?

TPA Jatiwaringin Terbakar Kembali, Bukti Nyata Gagalnya Tata Kelola Sampah? - Gambar 1
TPA Jatiwaringin Terbakar Kembali, Bukti Nyata Gagalnya Tata Kelola Sampah? - Gambar 2
1 / 2

Bumi Pertiwi Asri - Kebakaran kembali terjadi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin pada Rabu, 1 Juli 2026. Kepulan asap hitam yang menyelimuti langit Kabupaten Tangerang menjadi peringatan keras bahwa persoalan pengelolaan sampah telah memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan.

Pertanyaan yang patut diajukan bukan lagi mengapa TPA terbakar, melainkan mengapa kondisi yang memungkinkan kebakaran berulang belum berhasil dicegah. Selama bertahun-tahun, pengelolaan sampah di banyak daerah masih bertumpu pada pola lama: kumpulkan, angkut, lalu buang ke TPA.

Pendekatan tersebut mungkin meredakan persoalan dalam jangka pendek, tetapi sekaligus menciptakan bom waktu lingkungan. Gunungan sampah terus bertambah, gas metana terakumulasi, kapasitas lahan semakin terbatas, dan risiko kebakaran menjadi ancaman berulang.

Alarm Serius untuk Perbaikan Sistem

Ketika kebakaran TPA terus terjadi, publik wajar mempertanyakan efektivitas tata kelola sampah yang berjalan saat ini. Evaluasi bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan memastikan kesalahan yang sama tidak terus berulang dengan korban yang berbeda.

Masyarakat menjadi pihak yang paling terdampak. Warga harus menghirup udara tercemar asap, beraktivitas dalam kualitas lingkungan yang menurun, serta menanggung risiko kesehatan yang tidak kecil. Dalam situasi seperti ini, masyarakat berhak memperoleh kepastian bahwa strategi pemerintah lebih dari sekadar memadamkan api saat kebakaran terjadi.

Ubah Paradigma dari Hulu

Persoalan sampah tidak akan selesai jika TPA masih dijadikan tujuan akhir tanpa upaya serius mengurangi volume sampah dari sumbernya. Edukasi pemilahan, penguatan bank sampah, pengolahan sampah organik menjadi kompos, pengembangan ekonomi sirkular, hingga peningkatan teknologi pengolahan harus menjadi prioritas nyata, bukan pelengkap dokumen perencanaan.

Pimpinan Yayasan Bumi Pertiwi Asri, Ibu Holida Minihanova, menilai kebakaran TPA Jatiwaringin harus menjadi momentum perubahan kebijakan secara menyeluruh. "Kebakaran TPA seharusnya tidak lagi dianggap sebagai kejadian biasa. Ini adalah alarm bahwa sistem pengelolaan sampah perlu dibenahi secara menyeluruh," tuturnya.

Ia menegaskan, jika sampah terus ditumpuk tanpa pengurangan dari sumbernya, persoalan yang sama akan terus berulang. Menurutnya, dibutuhkan keberanian untuk mengubah paradigma dari sekadar membuang sampah menjadi mengelola sumber daya.

Momentum Kolaborasi Lintas Pihak

Sudah saatnya pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat duduk bersama membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Investasi pada fasilitas pengolahan di tingkat komunitas, penguatan peran bank sampah, dan penerapan prinsip ekonomi sirkular harus diwujudkan sebagai agenda nyata.

Kebakaran TPA Jatiwaringin semestinya menjadi titik balik, bukan sekadar berita yang hilang setelah api dipadamkan. Selama akar persoalan tidak diselesaikan, yang padam hanyalah apinya, sementara masalahnya akan terus menyala.

Asap yang membumbung dari TPA Jatiwaringin bukan hanya hasil pembakaran sampah. Asap itu adalah pengingat bahwa setiap keterlambatan membenahi tata kelola sampah akan selalu dibayar mahal oleh lingkungan dan masyarakat.